KULTUR SEKOLAH
KULTUR SEKOLAH (Budaya Sekolah)
Nama: Atikah Putri Dinanty
NIM: 11901029
1.
Pengertian
Budaya
Dalam suatu organisasi yang termasuk ke dalamnya lembaga
pendidikan, budaya diartikan sebagai tindakan, yaitu keyakinan dan tujuan yang
dianut bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk
perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota.
Contohnya dalam lembaga pendidikan, budaya ini seperti budaya saling menyapa,
saling menghargai, toleransi dan sebagainya. (Fauziah, 2018: 10)
Kotter dan Hessket dalam Fauziah (2018:10) mendefinisikan kata “budaya”
sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua
produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan suatu masyarakat
atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Selain itu kebudayaan juga
didefinisikan sebagai norma-norma perilaku yang disepakati oleh sekelompok
orang untuk bertahan hidup dan berada bersama.
Schwartz dan Davis dalam Fauziah (2018:10-11) berpendpaat budaya
merupakan suatu kesatuan keyakinan dan harapan yang diberikan oleh keseluruhan
anggota organisasi. Keduanya dapat menciptakan norma dan kekuatan penggerak
yang membentuk tingkah laku individual dan kelompok dalam organisasi tersebut.
Sebagaimana ditegaskan Ndraha, budaya setiap orang berbeda dengan orang lain,
budaya itu ansich tidak dapat disebut buruk dan baik, karena itu setiap orang
atau kelompok adalah berbudaya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan budaya adalah
seperangkat asumsi, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi
yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya.
2.
Pengertian
Sekolah
Tirtarahardja dan La Sulo dalam Fauziah (2018:12) menyatakan bahwa
sekolah sebagai pusat pendidikan untuk menyiapkan manusia menjadi individu,
warga masyarakat, negara, dan dunia di masa depan. Sekolah diharapkan mampu
mengembangkan potensi anak atau peserta didik, untuk meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sedangkan Suwarno dalam Fauziah (2018:12) berpendapat bahwa sekolah merupakan
salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam proses
sosialisasi anak setelah memiliki pengalaman hidup di keluarga. Menurut Webster
dalam Fauziah (2018:12) memberikan pendapat bahwa sekolah merupakan tempat atau
institusi/lembaga yang secara khusus didirikan untuk menyelenggarakan proses
belajar mengajar atau pendidikan.
Dari beberapa definisi sekolah yang telah dijabarkan oleh beberapa para
ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sekolah merupakan salah satu
institusi/lembaga pendidikan formal yang secara khusus didirikan untuk
memberikan pelayanan dan menyelenggarakan proses sosialisasi atau pendidikan
dalam rangka mempersiapkan manusia menjadi individu, warga masyarakat, negara
dan dunia di masa yang akan datang.
3.
Pengertian
Budaya Sekolah
Kultur sekolah (school culture) menurut Philips dalam Imtihan
(2018: 31) diamknai sebagai kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencirikan
sekolah. Pendekatan kultur
dalam meningkatkan mutu saat ini mulai memperoleh Persian untuk melengkapi
konsep pendekatan struktur yang telah lebih dulu berkembang dalam praktek
pengelolaan sekolah. Menurut Sastrapratedja dalam Imtihan (2018: 31)
"struktur" dan" perilaku" selama ini merupakan dua konsep
yang sangat dominan dalam pendekatan pelatihan untuk memperbaiki kondisi
Organisasi. Tetapi pendekatan ini tidak mampu Menjangkau "summer-sumber
kemanusiaan" dalam suatu profesi. Oleh karena itu para para ahli mulai
berpaling kepada "manajemen berbasis nilai". Pendekatan ini
menekankan pada upaya mengembangkan hubungan kolegial, kepercayaan satu
terhadap yang lain, saling pengertian dan mendukung. Itu semua pada gilirannya
akan menjadi perbaikan yang saling berhubungan atau berkesinambungan dan
pemberdayaan seluruh warga sekolah. Pendekatan budaya atau kultur juga menekankan
pada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, dan riwayat sekolah, yang kesemuanya
itu akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.
Belakangan ini peningkatan kualitas pendidikan pada semua jenjang
termasuk Sekolah Menengah Umum (SMU) yang kemudian menjadi tekad dan kesepkatan
nasional sesuai amanat UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun
2003. Selanjutnya diperlukan langkah-langkah dan tindakan nyata di tingkat
sekolah, kelas dan masyarakat local tempat sekolah beroperasi. Perbaikan sistem
persekolahan yang pada intiya adalah membangun sekolah dengan kekuatan utama
sekolah yang bersangkutan. Sejalan dengan pendapat Zahromi, perbaikan mutu
sekolah dengan demikian perlu memahami kultur sekolah, melalui pemahaman kultur
sekolah, berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat
diketahui, dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. (Imtihan 2018: 31-32)
Membahas tentang kultur sekolah tidak terlepas dari pengkajian
tentang modal budaya (culture capital). Pada pandangan sosiologis Pierre
Bourdieu sebagai tokoh yang ahli dalam bidang modal budaya (Bourdieu dalam
kusdaryani, dkk, 2016:126), menyatakan bahwa modal budaya merupakan selera
bernilai budaya dan pola konsumsi yang mencakup rentangan luas properti seperti
seni, pendidikan dan bentuk-bentuk bahasa. Di sisi lain, juga dijelaskan bahwa
batasan modal budaya sebagai berbagai pengetahuan yang sah. Penjelasan modal
budaya secara lebih detail juga disampaikan oleh Lee (Damsar,2012:197), yaitu
sebagai kepemilikan kompetensi kultural tertentu, atau seperangkat pengetahuan
kultural yang menyediakan bentuk konsumsi kultural yang dibedakan secara khusus
dan klasifikasi rumit dari barang-barang kultural dan simbolis. Dari beberapa
definisi yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa modal budaya merupakan
kepemilikan kompetensi dan pengetahuan kultural yang menuntun selera bernilai
budaya dan pola-pola konsumsi tertentu, yang dilembagakan dalam bentuk
kualifikasi pendidikan.
Menurut Deal & Peterson dalam Efianingrum (2013: 20-21)
berpendapat bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik
dalam membentuk pola kultural dalam implementasi atau praktik kehidupan di
sekolah. Ketika para pengambil kebijakan dan reformis pendidikan lebih
menekankan pada pentingnya struktur dan rasional, justru mengingatkan kepada kita
bahwa perubahan pada aspek tersebut tidak sepenuhnya berhasil tanpa dukungan
faktor kultural. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan
pencapaian prestasi akademik maupun non-akademik, dan keterlaksanaan proses
pembelajaran bagi siswa.
Menurut Efianingrum (2013: 24) Sekolah memiliki peran dalam
menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus
selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun, di sekolah
itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian
dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik
sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, dalam Efianingrum, 2013: 24).
Munculnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu
siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat
berkembang pola perilaku yang khas bagi
siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta
upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah
yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan
(kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan
kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah
itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam
praktiknya. (Efianingrum 2013: 24)
Menurut Efianingrum (2013: 22) mengemukakan bahwa kebudayaan
sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material
hingga yang konkrit/material, yaitu:
a. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan di sekolah.
b. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas
siswa, guru, non tenaga kependidikan, dan tenaga administrasi.
c. Kurikulum sekolah yang memuat gagasangagasan maupun fakta-fakta
yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
d. Letak, lingkungan, dan
prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya.
4.
Implikasi
Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah
Deal
& Peterson dalam Efianingrum (2013: 24) memperluas kajian yang menunjukkan
betapa berpengaruhnya kultur terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini
deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi
sekolah:
a)
Visi
dan Nilai (Vision and Values)
Berdasarkan pendapat
Kouzes dan Posner dalam Locke yang kemudian dikutip oleh Efianingrum (2013: 24)
yang mendefinisikan visi sebagai berikut “Vision as an ideal and unique image
of the future”. Kemudian Hickman dan Silva dalam Efianingrum (2013: 24) yang
mengemukakan bahwa visi adalah “A mental journey from the known to the unknown,
creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers,
and opportunities”. Sehingga dapat diartikan dan ditarik kesimpulan visi
merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan
terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara
sosiologis/antropologis
b)
Upacara
dan Perayaan (ritual and ceremony)
Menurut Efianingrum
(2013: 25) Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah memiliki fungsi dalam
membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Momentum-momentum
penting di sekolah dapat dirayakan secara sederhana untuk mengisi kembali
semangat dalam bentuk motivasi antar siswa yang dimiliki sekolah untuk
menggelorakan visi dan spirit sekolah.
c)
Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah dan
cerita masa lalu memiliki peran penting dalam mengalirkan dan memancarkan
energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan
peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.
Dengan kata lain, romantisme masa lalu dapat menumbuhkan semangat untuk
mewujudkan kejayaan di masa yang akan datang. (Efianingrum 2013: 25)
d)
Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah pada
umumnya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan
tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang atau logo sekolah, motto, lagu (mars
atau hymne), dan seragam sekolah yang menggambarkann visi dan misi sekolah.
Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah,
dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan
nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding,
spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.
5.
Aneka
Praktik pengembangan kultur Sekolah
a.
Prestasi
Akademik
Menurut (Efianingrum
2013: 28) menyatakan bahwa di sekolah yang menghargai prestasi akademik,
terjadi proses penciptaan iklim akademik (academic athmosphere) yang bertujuan
untuk mencapai prestasi dalam bidang akademik. Prestasi akademik ini biasanya
terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah.
Sebagian besar orang tua peserta didik cenderung lebih menghargai prestasi akademik
daripada prestasi lainnya.
b.
Non-Akademik
Prestasi non-akademik
dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang mendukung dan menghargai
prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan
demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang
(space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi,
berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku kemanusiaan. (Efianingrum 2013: 28)
c.
Karakter
Menurut Efianingrum
(2013: 28) Karakter berkaitan dengan moral. Pendidikan untuk membangun karakter
pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau
lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan
dan membangun kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa
perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya
dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar. Terdapat variasi nilai
karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: kondusif
bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan,
kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain
d.
Kelestarian
Lingkungan Hidup
Sejumlah
sekolah di berbagai jenjang (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat
sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah
berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul
dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah
lingkungan. (Efianingrum 2013: 28)
Sumber:
1.
Imtihan,
Nurul. 2018. Kultur Sekolah dan Kinerja Peserta Didik MAN Yogyakarta III. Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 6 No. 2, Agustus 2018. Dari file:///D:/Semester%204/Magang%201/kultur%20sekolah/839-Article%20Text-2182-1-10-20190709.pdf
2.
Kusdaryani,
Wiwik. 2016. Penguatan Kultur sekolah untuk mewujudkan Pendidikan Ramah
anak. Jurnal Cakrawala Pendidikan, Februari 2016 th. XXXV, No. 1. Dari file:///D:/Semester%204/Magang%201/kultur%20sekolah/PENGUATAN_KULTUR_SEKOLAH_UNTUK_MEWUJUDKAN_PENDIDIK.pdf
3.
Efianingrum,
Ariefa. 2013. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran Sosiologi. Vol. 2, No. 1.
Dari file:///D:/Semester%204/Magang%201/kultur%20sekolah/23404-60975-1-PB.pdf
4.
Fauziah,
Adea. 2018. Kultur Sekolah. Dari http://repository.uinsu.ac.id/4822/5/BAB%20II.pdf
Komentar
Posting Komentar